Jumat, 20 Mei 2011

buku Norman Edwin: Catatan Sahabat Sang Alam


nama Norman Edwin pada 1976 - 1992 identik dengan pendaki gunung, pengembara ilmiah, pelayar lautan, dan penulis kisah perjalanan andal yang sudah punya "umat"-nya sendiri. Kini setelah hampir 20 tahun sepeninggalannya, nama itu masih lekat dalam ingatan sebagian diantara kita. 

Buku ini akan menjelaskan, betapa Norman memang bukan sekedar suka-suka untuk menggeluti hobi mendaki gunung, tetapi pendaki yang memang betul-betul menguasai ilmu pendakiannya secara ilmiah. Untuk membuktikan itu, Norman mampu membagikan ilmu dan pengalamannya itu dengan enak dan nikmat di media massa tempatnya berkarya, mulai dari majalah remaja seperti Hai atau Gadis, majalah perjalanan dan lingkungan seperti Mutiara dan Suara Alam, sampai akhirnya berkarir sebagai wartawan di harian Kompas. 
 
buku ini berisi 64 tulisan Norman tentang pengembaraanya di alam liar dan persahabatannya dengan manusia di dataran rendah, tinggi, dan pucuk serta kolong bumi. Semua kegirangan dan kegentaran serta kenikmatan dan kesulitannya menjelajah hutan di Sulawesi, mengarungi Sungai Kapuas di Kalimantan, memasuki perut bumi di Luweng Ombo di Jawa, mendaki puncak-puncak dunia seperti Kilimanjaro di Afrika dan McKinley  di Alaska, sampai melayari Lautan Hindia di atas kapal pinisi Ammana Gappa, ditulis dengan jernih, rinci, dan juga menyentuh. Norman Edwin: Catatan Sahabat Sang Alam ini membawa kita bertualang, terutama mengunjungi tempat-tempat sunyi di ujung-ujung terluar wilayah jangkauan manusia.

salah satu tulisan yang menyentuh di dalam buku ini adalah ketika Ekspedisi di Sungai Alas. Bercerita tentang tragedi memilukan yang merenggut nyawa dua orang sahabat terbaik yang akan pergi untuk selamanya. Berikut penggalan tulisan tersebut:

Langit mendadak runduk kelabu
Di sini kita tak sempat lagi bicara tentang sepi
Dan membenahi jejak mimpi selama ini
"Hidup tak perlu ditangisi!", katamu
Untuk melintasi sungai
Untuk memulai hidup ini dibutuhkan keberanian
Namun tak usah berlebihan
Karena gerimis luruh pun menyimpan kemungkinan
Sungai yang angkuh tengadah dipermainkan musim
Mengubah kita dengan nasib yang tak terduga
"Hidup harus lebih dari sekedarnya"

Share ke :

Artikel Yang Berhubungan



Ditulis Oleh : Langit Pagi

Angin, hujan, gunung, langit, embun, pagi dan senja, itulah jiwa - jiwa yang tak pernah padam. Sapa dan ramahlah, dan jadilah bagian dari keajaiban mereka. -- Anda sedang membaca sebuah artikel yang berjudul buku Norman Edwin: Catatan Sahabat Sang Alam,,

:: Thank you for visiting,. Salam Lestari. ::

0 komentar:

Posting Komentar

Betapa megahnya setiap kata yang tertinggal dan terukir di Langit Pagi
~~Terima kasih~~

Monggo di Translate

Powered By Blogger